Jurus Digital Pramono: Usir Preman dan Copet dari Pasar.
Pramono Yakin Digitalisasi Pasar Bisa Kurangi Preman dan Copet: Beneran Nih? Yuk, Kita Bedah!

Sekretaris Kabinet Pramono Anung optimis digitalisasi bisa bikin pasar lebih aman. (Sumber: Kompas.com)
Halo, teman-teman! Pernah nggak sih kamu lagi asyik-asyiknya belanja di pasar tradisional, tiba-tiba ngerasa was-was? Megangin tas erat-erat, celingak-celinguk curiga, takut ada tangan jahil yang nyamber dompet atau HP. Atau mungkin, kamu pernah lihat oknum-oknum yang narikin "uang keamanan" ke pedagang? Jujur aja, suasana kayak gini kadang bikin pengalaman belanja jadi kurang nyaman, kan?
Nah, baru-baru ini ada pernyataan menarik dari Sekretaris Kabinet kita, Bapak Pramono Anung. Beliau yakin banget kalau program digitalisasi pasar tradisional itu bukan cuma soal bikin transaksi jadi canggih, tapi juga bisa jadi jurus jitu buat mengurangi premanisme dan aksi copet. Wow, dengerinnya aja udah keren, ya? Tapi pertanyaannya, emang bisa se-efektif itu? Gimana logikanya? Yuk, kita bedah bareng-bareng di artikel ini, dari A sampai Z, dengan gaya santai!
Kenapa Sih Pasar Tradisional Sering Dianggap 'Sarang'-nya Kejahatan?
Sebelum kita ngomongin solusinya, kita harus paham dulu akarnya. Kenapa, ya, pasar tradisional sering dapet stigma negatif soal keamanan? Ingat, ini bukan berarti semua pasar itu nggak aman, ya. Tapi ada beberapa faktor yang bikin pasar jadi 'lapangan bermain' yang ideal buat oknum-oknum nggak bertanggung jawab.
Pertama, transaksi tunai yang masif. Di pasar, uang cash itu rajanya. Dari beli sayur, ikan, sampai bayar parkir, semuanya mayoritas pakai uang fisik. Nah, di mana ada banyak perputaran uang tunai, di situ potensi kejahatan kayak copet dan pemalakan jadi lebih tinggi. Logis, kan? Copet mau ngincer apa lagi kalau bukan dompet yang isinya lembaran-lembaran rupiah.
Kedua, suasananya yang padat dan seringkali semrawut. Desak-desakan pas lagi nawar harga itu udah jadi pemandangan biasa. Kondisi ini, sayangnya, jadi kesempatan emas buat copet beraksi tanpa ketahuan. Senggol sana-sini, eh dompet udah pindah tangan. Selain itu, sistem keamanan yang mungkin belum terintegrasi dengan baik, kayak kurangnya CCTV atau petugas keamanan, juga jadi salah satu penyebabnya.
Terakhir, adanya budaya 'setoran' atau pungutan liar (pungli) yang kadang dilakukan oleh oknum preman. Mereka manfaatin celah manajemen yang mungkin kurang terstruktur buat narikin uang dari pedagang dengan dalih "uang keamanan." Ini bikin ekosistem pasar jadi nggak sehat dan pastinya merugikan para pedagang kecil.
Masuk Akal Gak Sih Logikanya? Begini Cara Digitalisasi 'Nendang' Preman dan Copet!
Oke, sekarang kita masuk ke bagian intinya. Gimana caranya cuma dengan scan QRIS atau transfer online bisa bikin preman dan copet auto mundur teratur? Keren bets kan kedengerannya? Ternyata, logikanya cukup kuat, teman-teman. Begini penjelasannya:
1. Transaksi Cashless = Copet Gigit Jari
Ini yang paling jelas. Kalau pembeli dan pedagang makin banyak yang pakai metode pembayaran non-tunai (cashless) seperti QRIS, dompet digital, atau transfer, peredaran uang fisik di pasar bakal drastis berkurang. Kalau nggak ada uang tunai yang bisa diincar, copet mau ngambil apa? Kode QR? Sandal jepit? Tentu nggak, kan. Target utama mereka hilang, otomatis ruang gerak mereka jadi super sempit. Ini adalah pukulan telak pertama bagi para pencopet.
2. Semua Tercatat Rapi, Pungli Jadi Susah
Nah, ini jurus buat ngelawan premanisme dan pungli. Salah satu keajaiban transaksi digital adalah jejak digitalnya. Setiap transaksi, sekecil apapun, akan tercatat secara otomatis. Siapa yang bayar, ke siapa, jam berapa, nominalnya berapa, semuanya ada datanya. Bayangin kalau semua retribusi atau iuran pedagang ke pengelola pasar dilakukan secara digital. Nggak ada lagi celah buat oknum narikin uang "siluman" di luar tarif resmi. Kalau ada yang coba-coba, bakal gampang banget dilacak. Premanisme yang sering bersembunyi di balik kekacauan administrasi jadi mati kutu!
3. Ekosistem yang Lebih Modern dan Terkontrol
Digitalisasi itu bukan cuma soal pasang stiker QRIS di lapak, lho. Program ini biasanya datang sepaket dengan modernisasi infrastruktur lainnya. Misalnya, pemasangan WiFi, perbaikan sistem pencatatan stok barang, sampai pemasangan CCTV di sudut-sudut strategis. Lingkungan yang lebih teratur, terang, dan terpantau secara otomatis akan membuat siapa pun yang berniat jahat jadi mikir dua kali. Mereka nggak bisa lagi sembunyi di keramaian atau kegelapan.
Tantangan di Lapangan: Gak Semudah Balikin Telapak Tangan, Bro!
Meskipun idenya brilian, kita juga harus realistis. Mengubah kebiasaan yang sudah mendarah daging itu butuh waktu dan tenaga ekstra. "Put enough effort and time," kata orang bijak. Ada beberapa tantangan besar yang harus kita hadapi bersama:
- Literasi Digital: Nggak semua pedagang, terutama generasi yang lebih tua, akrab sama smartphone dan aplikasi pembayaran. Butuh edukasi dan pendampingan yang sabar dan berkelanjutan biar mereka nggak cuma punya, tapi juga paham dan nyaman menggunakannya.
- Infrastruktur Jaringan: Apa kabar pasar-pasar di daerah yang sinyal internetnya masih suka putus-nyambung? Tanpa koneksi yang stabil, transaksi digital bisa jadi mimpi buruk. Ini PR besar buat pemerintah dan provider telekomunikasi.
- Adaptasi Budaya: Budaya tawar-menawar sambil pegang uang fisik itu punya sensasi tersendiri. Mengubah kebiasaan ini butuh waktu. Pembeli juga harus diedukasi untuk beralih ke pembayaran non-tunai.
Tantangan ini nyata, tapi bukan berarti nggak bisa diatasi. Kuncinya ada di kolaborasi antara pemerintah, pengelola pasar, komunitas pedagang, dan kita sebagai pembeli.
Jadi, Kesimpulannya Gimana?
Jadi, teman-teman, gagasan bahwa digitalisasi pasar bisa mengurangi premanisme dan copet itu sangat masuk akal dan punya potensi besar. Ini bukan cuma mimpi di siang bolong. Dengan mengurangi peredaran uang tunai, mencatat semua transaksi secara transparan, dan memodernisasi lingkungan pasar, kita bisa menciptakan ekosistem yang jauh lebih aman dan nyaman untuk semua.
Tentu, perjalanannya masih panjang dan penuh tantangan. Tapi ini adalah langkah ke arah yang benar. Apa yang bisa kita lakukan? Sebagai pembeli, mulailah membiasakan diri bertransaksi non-tunai di pasar jika memungkinkan. Ini adalah dukungan kecil kita untuk mendorong perubahan besar.
Pada akhirnya, ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal membangun peradaban pasar yang lebih baik. Pasar yang nggak cuma jadi pusat ekonomi rakyat, tapi juga ruang publik yang aman, jujur, dan modern. InsyaAllah, dengan niat baik dan usaha bareng-bareng, semua itu bisa terwujud. Keren bets kan kalau kita bisa jadi bagian dari perubahan itu?
Gimana menurut kamu? Share pendapatmu di kolom komentar, ya!
Comments
Post a Comment